Pembuka
Ada satu buku yang judul bab-babnya bikin orang langsung ilfil sebelum baca isinya.
Bab pertama: "Kenapa Aku Begitu Bijak."
Bab kedua: "Kenapa Aku Begitu Pintar."
Bab ketiga: "Kenapa Aku Menulis Buku Sebagus Ini."
Bab terakhir: "Kenapa Aku Adalah Sebuah Takdir."
Judulnya Ecce Homo. Artinya "lihatlah, manusia itu". Penulisnya Friedrich Nietzsche.
Kalau cuma baca daftar isinya, wajar kalau kamu mikir ini buku orang yang kelewat bangga sama dirinya sendiri. Tapi ada satu hal yang bikin gambaran itu berantakan.
Waktu menulis buku ini, Nietzsche berumur empat puluh empat tahun. Badannya rusak. Matanya rabun berat sampai menulis pun menyakitkan. Sakit kepalanya bisa datang berhari-hari sampai dia muntah-muntah. Dia tidak punya jabatan, tidak punya keluarga sendiri, dan bukunya nyaris tidak ada yang beli. Beberapa karyanya dia cetak dengan uangnya sendiri, dan yang terjual bisa dihitung jari.
Dia menulis Ecce Homo dalam waktu sekitar tiga minggu, di Turin, akhir tahun 1888. Beberapa minggu setelah itu, di jalanan kota yang sama, dia ambruk. Akal sehatnya tidak pernah kembali. Sisa hidupnya, sebelas tahun, dia habiskan dalam perawatan sampai meninggal tahun 1900.
Jadi buku ini adalah hal terakhir yang dia tulis tentang dirinya sendiri, ditulis oleh orang yang badannya hampir habis, tepat sebelum pikirannya ikut habis.
Sekarang judul-judul bab tadi terdengar agak beda, kan.