IsengAe
← Tasawuf Modern
bab 1 dari 12

Tasawuf yang turun ke pasar

0:00-1:45
Tasawuf Modern · bab 1

Kata tasawuf sering dibayangkan dengan orang yang menjauh dari dunia. Duduk berzikir di tempat sepi, memakai pakaian lusuh, meninggalkan urusan harta, keluarga, dan pekerjaan. Pada masa Hamka, sebagian praktik tasawuf juga sudah bercampur dengan hal-hal yang menurut dia menyimpang dari ajaran agama: mengkultuskan guru, mencari kesaktian, atau menjauhi kerja dengan alasan zuhud.

Buya Hamka menulis buku ini untuk menawarkan jalan lain. Tasawuf yang tetap membersihkan hati, tapi dijalani di tengah kehidupan sehari-hari. Di pasar, di kantor, di rumah tangga, di tengah masyarakat. Karena itu dia menamainya tasawuf modern.

Untuk mengartikan tasawuf, Hamka memilih definisi dari Junaid al-Baghdadi, sufi besar abad ketiga Hijriah: keluar dari budi pekerti yang tercela, dan masuk ke budi pekerti yang terpuji. Dengan definisi ini, tasawuf bukan soal pakaian, tempat, atau ritual khusus. Tasawuf adalah pekerjaan hati yang bisa dilakukan siapa saja, di mana saja.

Tulisan-tulisan ini awalnya muncul bersambung di majalah Pedoman Masyarakat di Medan, yang dipimpin Hamka, di akhir tahun 1930-an. Waktu itu Indonesia masih dijajah, rakyat serba kekurangan. Lalu tulisan-tulisan itu dibukukan dan terus dicetak ulang sampai sekarang.

Bahasanya bahasa Indonesia lama, penuh ungkapan yang sekarang terdengar kuno. Tapi pertanyaan utamanya masih sangat terasa hari ini: apa sebenarnya bahagia itu, dan kenapa banyak orang yang sudah punya banyak tetap merasa kurang?