Kita pernah punya saudara
Sekitar seratus ribu tahun lalu, bumi dihuni beberapa jenis manusia sekaligus.
Di Eropa dan Asia Barat hidup Neanderthal. Badannya kekar, tahan dingin, otaknya malah sedikit lebih besar dari otak kita. Di Asia Timur ada Homo erectus, jenis manusia yang bertahan hampir dua juta tahun, termasuk di Jawa. Di Pulau Flores ada Homo floresiensis, manusia bertubuh kecil, tingginya sekitar satu meter. Dan ada kita, Homo sapiens, yang waktu itu masih di Afrika Timur.
Harari mengajak kita membayangkan dunia itu seperti sekarang ada beberapa jenis beruang atau beberapa jenis kucing besar. Manusia bukan satu, tapi keluarga besar dengan banyak cabang.
Sekarang tinggal kita.
Pertanyaan pembuka Sapiens sederhana: kenapa kita? Kita bukan yang paling kuat. Bukan yang otaknya paling besar. Neanderthal juga memakai alat, memakai api, bahkan mengubur orang yang meninggal.
Harari juga mengingatkan bahwa sepanjang sebagian besar sejarahnya, manusia itu hewan yang biasa-biasa saja. Kita ada di tengah rantai makanan. Kita makan sisa buruan hewan lain, memecah tulang untuk mengambil sumsumnya. Baru belakangan, dalam waktu yang sangat singkat, kita melompat ke puncak. Dan karena lompatannya terlalu cepat, kata Harari, kita masih membawa rasa cemas dan takut hewan yang dulu diburu. Mungkin itu sebabnya manusia sering begitu kejam dan begitu rakus.
Harari membagi sejarah kita jadi empat babak besar. Revolusi kognitif, revolusi pertanian, penyatuan umat manusia, dan revolusi sains.